KOMPAS.com – Di balik komunitas edukasi pasar keuangan yang kini memiliki ribuan anggota, terdapat perjalanan panjang yang berawal dari kehidupan yang jauh dari kata mudah.
Pendiri Ran Trade, Ranto Siagian, lahir di Samarinda pada 25 Agustus 1998 dari keluarga sederhana yang sempat mengalami keterpurukan ekonomi.
Kondisi tersebut membuat kedua orang tuanya mengambil keputusan berat menitipkan Ranto bersama beberapa saudaranya ke panti asuhan agar mereka tetap dapat mengenyam pendidikan.
Ranto menghabiskan masa pendidikannya di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas I sekolah dasar hingga lulus sekolah menengah kejuruan.
“Saya belajar bermain musik, berlatih berbicara di depan umum saat berinteraksi dengan para donatur, hingga mengenal kedisiplinan melalui berbagai kegiatan rutin yang terjadwal,” tutur pria yang akrab disapa Bang Ran ini dalam rilisnya, Minggu (2/8/2026).
Namun, setelah lulus SMK, keinginannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harus pupus karena keterbatasan biaya. Pengalaman hidup tersebut kemudian membentuk cara pandangnya mengenai proses belajar.
Bagi Ranto, pendidikan bukan hanya soal menyampaikan teori, tetapi juga membangun disiplin, konsistensi, dan kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Pandangan itu kemudian diwujudkan melalui Ran Trade yang didirikannya pada 1 Juli 2024 sebagai komunitas edukasi pasar keuangan.
Lahir di Tengah Meningkatnya Investor
Kehadiran komunitas tersebut beriringan dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang memasuki pasar keuangan Indonesia. Bursa Efek Indonesia mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 26.486.735 Single Investor Identification (SID) per 30 April 2026 atau meningkat 30,17 persen dibandingkan akhir 2025.
Sementara itu, data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Desember 2025 menunjukkan 54,23 persen investor berusia di bawah 30 tahun. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah investor belum sepenuhnya diikuti peningkatan literasi keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) mencatat kerugian masyarakat akibat investasi ilegal mencapai Rp142,22 triliun sepanjang 2017 hingga kuartal III 2025. Hingga 12 November 2025, Satgas PASTI juga telah menghentikan 14.005 entitas keuangan ilegal, termasuk 1.882 investasi ilegal.
Menurut Ranto, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan akses terhadap instrumen investasi, tetapi juga pemahaman mengenai risiko. Karena itulah Ran Trade tidak hanya mengembangkan kelas daring, tetapi juga menghadirkan seminar tatap muka.
“Kelas online memang lebih praktis, tapi lewat seminar tatap muka saya bisa melihat langsung apakah peserta benar-benar memahami materi dan kesulitan yang mereka alami,” katanya.
Menurut dia, persoalan terbesar bukan lagi memperkenalkan instrumen investasi kepada masyarakat.
“Di lapangan, saya menemukan banyak orang sudah mengenal trading, tetapi masih lemah dalam memahami manajemen risiko, membaca struktur pasar, dan menjalankan strategi secara konsisten,” ujarnya.
Belajar Mengelola Risiko
Salah satu seminar yang dibuka digelar di Surabaya, Juli lalu. Peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri. Materi utama seminar adalah Metode BRG, pendekatan yang dikembangkan Ranto berdasarkan pengalamannya di pasar keuangan. Materi disusun bertahap, mulai dari membaca arah pasar, menentukan area masuk, hingga menyusun strategi pengelolaan risiko sebelum mengambil keputusan.
“Yang membedakan Metode BRG adalah pendekatannya yang terstruktur, mulai dari membaca arah pasar, menentukan area entry, hingga mengatur risiko sebelum mengambil posisi,” katanya.
Meski demikian, Ranto menegaskan metode tersebut tidak pernah menjanjikan keuntungan tertentu.
“Saya tidak pernah menjanjikan tingkat keberhasilan atau profit tetap, karena hasil trading tetap dipengaruhi kondisi pasar, kedisiplinan, psikologi, dan cara setiap orang mengelola risikonya. Metode ini adalah panduan untuk membuat keputusan lebih terukur, bukan jaminan pasti untung,” ujarnya.
Dibangun dari Tim yang Sangat Kecil
Keberhasilannya tidak diraih dalam waktu singkat. Pada masa awal membangun komunitas, hampir seluruh pekerjaan dikerjakan oleh tim yang sangat kecil. Setelah menyusun materi dan tampil di depan kamera, pekerjaan belum selesai. Masih ada konten yang harus diperiksa, membaca respons anggota, berdiskusi dengan tim, hingga menyiapkan materi berikutnya. Ketika jumlah audiens bertambah, tantangan pun ikut berkembang.
Kebutuhan konten meningkat setiap hari, jadwal siaran harus tetap berjalan, pertanyaan anggota terus berdatangan, sementara berbagai kendala teknis kerap muncul menjelang tayang. Namun, tantangan terbesar bukan persoalan teknis.
Di tengah maraknya promosi keuntungan instan dan banyaknya pengalaman buruk masyarakat terhadap investasi ilegal, membangun kepercayaan menjadi pekerjaan yang jauh lebih sulit. Tidak sedikit materi yang dipersiapkan selama berjam-jam hanya memperoleh respons terbatas. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkah mereka. Materi terus diperbaiki, metode penyampaian dievaluasi, dan kegiatan edukasi tetap dijalankan secara konsisten. Perlahan, hasilnya mulai terlihat.
Datang karena Pernah Rugi
Salah seorang peserta seminar, Ilham, mengaku datang setelah mengalami kerugian dalam investasi akibat minimnya pemahaman mengenai manajemen risiko. Pengalaman tersebut membuatnya mempertanyakan kembali cara mengambil keputusan di pasar keuangan. Ia datang ke seminar bukan untuk mencari cara memperoleh keuntungan secara instan, melainkan memahami kesalahan yang pernah dilakukannya agar tidak kembali terulang.
Hingga kini, Ran Trade memiliki 2.783 anggota aktif yang terdiri atas anggota berbayar maupun anggota grup Telegram terbuka dan tertutup. Sementara itu, jumlah pengikut secara akumulatif di Telegram, Instagram, YouTube, dan situs Ran Trade Academy mencapai 87.570 akun. Jumlah tersebut merupakan gabungan lintas platform sehingga tidak menggambarkan jumlah pengguna unik.