Saham perusahaan pertambangan lithium asal Australia, PLS Group, menguat sekitar 3,03% menjadi A$3,06 pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Kenaikan ini terjadi setelah perusahaan menyetujui proyek ekspansi tambang lithium senilai US$1,3 miliar atau sekitar A$1,9 miliar di Pilgangoora, Australia Barat. Penguatan saham PLS juga melampaui kenaikan indeks ASX 200 yang tercatat sekitar 1%, menunjukkan respons positif investor terhadap rencana pengembangan produksi perusahaan.
Melalui proyek bernama P2000, PLS Group berencana membangun fasilitas pengolahan baru bernama Jimmagunya untuk meningkatkan kapasitas produksi konsentrat spodumene, bahan baku utama pembuatan lithium. Ekspansi tersebut ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 2 juta ton per tahun, hampir dua kali lipat dari kapasitas sebelumnya. Perusahaan menargetkan produksi pertama dimulai pada kuartal ketiga 2029, dengan rata-rata produksi sekitar 1,97 juta ton per tahun selama sepuluh tahun pertama ketika fasilitas beroperasi secara stabil.
Untuk membiayai ekspansi, PLS Group berencana memanfaatkan cadangan kas dan arus kas operasional, serta membuka kemungkinan penggunaan pendanaan utang apabila diperlukan. Selain proyek utama, perusahaan juga menyiapkan investasi infrastruktur tambahan hingga A$650 juta di kawasan Pilgangoora. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi PLS Group sebagai salah satu produsen lithium utama dunia, terutama di tengah prospek permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Namun, keberhasilan investasi tetap bergantung pada perkembangan harga lithium, biaya operasional, dan kondisi pasar global.